Yuyun Siti Nurjamilah : Mengabdi Tanpa Mengenal Usia, Menemani Lansia dengan Hati
Di sebuah rumah sederhana di Kampung Cikantong, Desa Sukamukti, Kecamatan Sukawening, tinggal seorang perempuan berusia 67 tahun yang hingga kini masih aktif mengabdikan waktunya untuk sesama. Namanya Yuyun Siti Nurjamilah. Seorang pensiunan ASN yang memilih mengisi masa purnabakti bukan dengan beristirahat, melainkan dengan melayani para lansia.
Sejak tahun 2024, Yuyun bergabung sebagai Kader Inklusi Pendamping Lansia. Awalnya, ia menerima amanah dari Tim Inklusi Lansia Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Garut sebagai bagian dari tanggung jawabnya di Pengurus Cabang Aisyiyah Kecamatan Sukawening. Saat itu, ia mengaku belum memahami sepenuhnya apa itu program inklusi lansia. Namun, satu keyakinan telah tumbuh di dalam hatinya.
"Saya yakin bahwa program ini adalah perjuangan kemanusiaan."
Kalimat sederhana itu menjadi langkah awal perjalanan pengabdiannya.
Bagi Yuyun, masa pensiun bukanlah akhir dari pengabdian. Justru setelah tidak lagi bekerja sebagai ASN, ia merasa perlu tetap aktif agar jiwa dan raganya terus hidup. Menjadi kader bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga menjadi jalan untuk terus belajar, bersosialisasi, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Pengalaman sebelumnya sebagai kader PKK dan kelompok tani semakin menguatkan keyakinannya bahwa kerja-kerja sosial selalu menghadirkan nilai kehidupan yang berharga. Dari sana ia belajar bahwa mengabdi bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih bijaksana.
Sebagai pendamping lansia, hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan. Ia mendampingi pemeriksaan kesehatan, mengikuti senam lansia, menghadiri majelis taklim, makan bersama (botram), hingga mengikuti berbagai materi yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia.
Di balik aktivitas tersebut, tersimpan kisah-kisah yang begitu menyentuh hati.
Salah satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan adalah ketika melakukan pendataan kepada seorang lansia yang sempat disembunyikan oleh keluarganya. Berkat kesabaran dan pendekatan yang baik, akhirnya ia diizinkan bertemu langsung dengan sang lansia.
Saat itu ia menyaksikan bagaimana seorang manusia yang dahulu kuat kini benar-benar bergantung kepada orang-orang di sekitarnya.
"Subhanallah... beliau seperti kembali menjadi bayi. Semua aktivitasnya bergantung kepada orang lain."
Pengalaman itu membuatnya semakin memahami bahwa setiap manusia, sekuat apa pun saat muda, pada akhirnya akan memasuki fase kehidupan yang membutuhkan kasih sayang dan pendampingan.
Momen lain yang paling membekas terjadi ketika ia mendampingi seorang lansia yang terserang stroke. Lansia tersebut tidak mampu lagi berbicara. Namun ketika perlahan dibimbing mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah, lidahnya mampu mengikuti.
"Saya mengecup tangan dan pipinya sambil meneteskan air mata. Saat itu saya benar-benar merasakan kebesaran Allah."
Bagi Yuyun, setiap kunjungan bukan sekadar menjalankan tugas administrasi, melainkan menjadi perjalanan batin yang mengajarkan arti kehidupan.
Tantangan tentu tidak sedikit. Ia kerap menjumpai keluarga yang belum memahami pentingnya pendampingan lansia. Bahkan tidak jarang ada anggota keluarga yang justru memanfaatkan kondisi lansia karena keterbatasan pengetahuan mereka.
Namun Yuyun memilih menghadapi semuanya dengan kesabaran. Ia percaya bahwa pendekatan yang baik dan komunikasi yang santun akan membuka hati masyarakat untuk lebih peduli kepada orang tua mereka.
Dari seluruh perjalanan itu, ia melihat perubahan yang sangat berarti. Para lansia menjadi lebih bersemangat mengikuti kegiatan, lebih percaya diri, dan merasa diperhatikan. Sementara bagi dirinya sendiri, program ini menjadi pengingat bahwa hari tua harus dipersiapkan sejak sekarang.
"Selain mendekatkan diri kepada Allah, kita juga harus menjaga hubungan penuh kasih sayang dengan anak, cucu, keluarga, dan tetangga."
Sebagai seseorang yang kini juga telah memasuki usia lanjut, Yuyun memiliki harapan sederhana namun mendalam. Ia ingin setiap generasi muda menghormati para lansia dengan tulus.
"Jangan pernah menganggap rendah lansia hanya karena hari ini kita masih kuat. Hargailah mereka yang telah berjuang di masa mudanya."
Ia juga berharap Desa Pasanggrahan terus menjadi pelopor desa ramah lansia. Menurutnya, pelayanan khusus di kantor desa, fasilitas yang mudah diakses, ambulans desa, hingga alat bantu bagi lansia sakit merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang telah mengabdikan hidupnya membangun keluarga dan masyarakat.
Ketika diminta menggambarkan lansia hanya dengan satu kata, jawabannya sangat sederhana namun penuh makna.
"Bahagialah."
Sebab menurutnya, kebahagiaan lahir dari dalam diri sendiri. Ketika hati bahagia, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh semua orang di sekitar.
Di usia 67 tahun, Yuyun membuktikan bahwa semangat pengabdian tidak mengenal batas usia. Ia tetap turun ke lapangan, mendata, mendampingi, mendengarkan keluh kesah, bahkan menjadi penguat bagi mereka yang mulai kehilangan kekuatan.
Yuyun Siti Nurjamilah adalah potret bahwa menjadi tua bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru di usia senja, ia memilih menjadi cahaya bagi sesama.
"Hormatilah para lansia sebagaimana kita memuliakan ibu dan bapak kita sendiri."— Yuyun Siti Nurjamilah, Kader Inklusi Pendamping Lansia


Posting Komentar